Hot News :

Dari Redaksi

Redaksi Bidik Utama menerima karya berupa cerpen, opini, dan resensi. Karya disertai identitas pengirim berupa nama dan asal instansi/Universitas.
Karya yang telah masuk menjadi milik redaksi.
Dikirim melalui email ke bidikutama24@gmail.com

PROFIL UKM JURNALISTIK UNTIRTA

KALENDER AKADEMIK 2014

KALENDER AKADEMIK 2014
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan

WPAP : Terobosan Baru dalam Lukis Portrait

Membaca buku ini menarik ingatan saya ke masa Sekolah Dasar beberapa tahun silam, dimana waktu itu guru keterampilan tangan dan kesenian (KTK) saya pernah mengajari melukis aneka buah-buahan dengan media tempelan serpihan kertas warna-warni yang sekarang kita kenal dengan teknik mozaik.
Perkenalan dengan buku Wedha ini seakan menjadi solusi terhadap kesulitan saya dalam melukis portrait menggunakan media warna. Hingga hampir semalaman saya menikmati contoh lukisan WPAP Wedha yang terdapat dibuku ini dengan dada gemuruh oleh rasa kagum dan ingin mencoba. Selama ini, saya hanya mampu melukis portrait hitam putih sebatas menggunakan media sederhana—pensil 2b, 46, dan 6b—lantaran saya kesulitan dan tak terbiasa dalam mengkombinasikan perpaduan warna. Setelah memahami gagasan Wedha yang ditulis dibuku ini, hobi saya melukis kembali mencuat, ternyata berkat penemuan Wedha, melukis tidak mesti repot memadukan warna-warna cat lukis yang membutuhkan rasa dan ketelitian. Dengan warna-warna yang berdiri sendiri dalam blok-blok berbagai ukuran dengan variasi gelap terang Wedha mampu melukiskan objek karakter yang ia lukis dengan citra yang kuat, Wedha berhasil meruntuhkan paham pakem Piet Mondrian yang mengimani bahwa warna di jagat raya hanya terdiri biru kuning dan merah (lih.5).
Tentu kemampuan menggunakan teknik WPAP ala Wedha tidak ia peroleh dengan jalan instan, tetapi mesti berangkat dari kemampuan dasar melukis realis yang kuat serta proses pencapaian yang panjang, meskipun tidak menutup kemungkinan ada orang yang mampu menirunya secara cepat dengan mengikuti anjuran di buku ini.      

Buku yang didesain lux dan fullcolor ini berisi pengalaman Wedha semasa kecil hingga pencapaiannya bergelut menekuni dunia illustrator diberbagai majalah di ibu kota, berikut trik-trik dia dalam berupaya menembus profesi sebagai illustrator. Wedha mengaku awalnya ia membuat illustrator dengan cara copy the master yang dalam bahasa Wedha ala toserba—dimana dia mesti membuat illustrator dengan berbagai gaya yang sedang berkembang waktu itu atau sesuai pesanan—agar sejalan dengan trend masa itu.

Seiring kejenuhan dan faktor usia yang membuat detail penglihatannya menurun. Wedha pun mencari cara melukis dengan lebih sederhana sepadan dengan kemampuan penglihatannya tanpa menghilangkan rasa estetis terhadap karya-karya yang ia buat.

Proses perjalanan panjang eksperimen Wedha—yang tak rampung menyelesaikan pendidikan arsitektur UI—dalam mengotak-atik blok-blok warna pun berbuah hasil. Dengan WPAP temuannya ini, Wedha memposisikan dirinya sebagai penemu teknik seni rupa WPAP pertama di Indonsesia bahkan di dunia. Wedha berharap perupa Indonesia bisa memiliki trendsetter khas Indonesia yang bisa diterima khalayak sebagaimana Jepang yang terkenal dengan teknik gambar manganya yang kadung digandrungi remaja Indonesia.

Dibuku ini pula Wedha memberikan panduan praktis bagaimana membuat lukisan ala WPAP, baik dengan cara manual maupun dengan menggunakan media komputer disertai contoh-contoh lukisan WPAP berbagai tokoh dunia yang Wedha buat dengan berbagai gaya dan karakter yang bisa kita nikmati di bagian terakhir buku ini. Seperti; Mick Jagger, Gusdur, Soekarno, Paus Yohanes Paulus II dan masih banyak lagi.

Impian Wedha yang paling penting adalah tumbuh kembangnya Wedha Wedha generasi selanjutnya, yang terus menemukan terobosan-terobosan baru dalam melukis. Karena dunia seni dan bidang apapun selalu dalam proses menjadi, boleh jadi beberapa tahun kedepan akan bermekaran temuan-temuan perupa Indonesia yang dapat mengharumkan nama bangsa ditengah kecamuk hiruk-pikuk masalah yang senantiasa menyesakkan penglihatan kita di berbagai media.

Buku ini akan menjadi hadiah berharga bagi siapapun yang memiliki cita rasa seni khususnya seni lukis modern atau yang kita kenal pop art.       

Judul        : WEDHA & WPAP (Wedha’s Pop Art Portrait) Pop Art Asli Indonesia
Penulis      : Wedha Abdul Rasyid
Penerbit    : Penerbit PT Elex Media Komputindo Kompas Gramedia Anggota Ikapi, Jakarta
Cetakan    : 2011
Tebal        : 112     

KREATIF SAMPAI MATI

Kreatif itu PenggerakPerubahan!



Demikian salah satu slogan yang diusung di awal2 oleh buku ini. Dan jargon Kreatif itu dibawa sampai akhir-mungkin sampai mati.

Ada alasan kenapa saya beli,unsur kenalan, salah satunya haha, tapi  terutama krn judul dan sampulnya sendiri sudah cukup catchy tanpa harus menjadi riuh. Dan kalau bosan dengan sampul hitam, cukup bagian dalam sampul-perpanjangan sampul-dilipat ke arah luar,isinya blank, silahkan digambar pakai coretan kita sendiri. Hehe.

Buku Kreatif Sampai Mati  penuh dengan illustrasi khas Waditya, yang pernah sukses menerbitkan komik Gembol. Kenapa? Karena target pasar adalah mereka yang (kepingin) kreatif, tentu saja-umumnya visual banget. Kebayang buku kreatif tapi isinya tulisan semua. Bisa tidur yang baca.  Jadi kalau isinya nggak "rame", ya, nggak seru. Asal jangan keramean, saja, ya,  karena seperti baca komik strip.

Di buku ini Waditya sekaligus menceritakan sedikit pengalamannya dari kecil sampai menjadi pendiri komunitas gaul yang cukup eksis di kalangan remaja, memenangkan berbagai penghargaan bergengsi. Banyak pengalaman konyol2 yang membuat dirinya menjadi sekreatif sekarang.

Dalam perjalanannya ke luar negeri, Waditya tidak menghabiskan waktu sekedar jalan2 menerima penghargaan dari sana-sini, tapi sekaligus "studi banding" langsung (bisa dicontoh anggota DPR, nih), dengan mata kepala sendiri, perbedaan logo2 luar negeri dan lokal, bahkan nemu inspirasi dari sana.

Point2 pemikiran Waditya bisa menjadi pelajaran bagi mereka yang ingin bergelut di bidang kreatif, seperti desain, khususnya animasi. Karena memang disitu selling pointnya. Bagi para pebisnis muda, bisa dijadikan contoh, walaupun porsi memulai usahanya tidak terlalu banyak.

Bagian kritik, nih...ya, memang namanya dagang, saya paham, tapi bisa nggak, ya,  selipan promosi tentang "produk2" (macam2 bentuknya) di buku ini sedikit dikurangi, lebih menambah konten untuk sharing ilmu. Karena dari awal sampai akhir kata kunci brand-nya terlalu banyak. Kan bukunya tidak berjudul "Sila ke 6 Brand XXX-Kreatif Sampai Mati"? 

Dan masukan dari buku ini untuk pemerintah juga sebetulnya bagus banget, misal beberapa kegaringan logo2 yang dibuat pemerintah Indonesia. Tapi sepertinya memang lebih ditujukan untuk menggerakkan massa kreatif, bukan untuk kritik langsung.  Buku ini bakal susah jadi masukan kalangan yang lebih serius, seperti para pembuat keputusan, karena gaya "berceritanya" yang anti runtun, melompat sana-sini. Membingungkan, buat orang2 yang biasa berpikir sistematis. Apakah, iya,  orang2 kreatif hanya ingin dipahami oleh sesama orang kreatif? Sila ke-6, di negara minion kreatif! LOL...bagus..bagus..

Tapi tidak mengapa. Dimaafkan. Karena memang itu targetnya, kok..

Buat kamu yang kreatif, buku ini cocok banget. Buat kamu yang serius banyak bergelut dengan otak kiri, buku ini menghibur. Jadi ambil saja manfaatnya yang syukur2 bisa bikin kamu ikutan kreatif.


Penulis : Wahyu Aditya
Penerbit Indonesia : Bentang Pustaka
Tebal : 320 halaman

Ken dan Kaskus; Cerita Sukses Di Usia Muda


“Saya percaya, intuisi kita akan memberi sinyal tentang apa yang harus kita perbuat. Sedari awal saya berinvestasi di Kaskus saya sudah meyakini intuisi sendiri.”

Kata-kata Ken di atas diambil dari Bab 7. Awal Yang Berat, hal. 201, Bab yang menceritakan perjuangan Kaskus sebagai situs online mengawali transisinya dari Seattle, Amerika ke Indonesia. Perjuangan bagaimana menghadapi Perang Cyber dan Peraturan Undang-undang baru mengenai Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Tapi dari situ membuktikan fanatisme dan  loyalitas kaskuser yang luar biasa.

Kaskus dibuat oleh Andrew Darwis pada tahun 1999,  secara tidak sengaja karena tugas kuliahnya di Seattle, yaitu membuat personal website. Tugas ini memberikan ide kepada Andrew untuk membuat situs forum yang bisa menampung isu, berita, diskusi dan hal apapun yang menarik tentang Indonesia. Dan akhirnya terciptalah Kaskus dari kata kasak-kusuk, situs yang dirancang sebagai ajang sharing antar mahasiswa di Indonesia yang ada di Seattle ini, dari 3 pengunjung menjadi 7, 10, 100 dan sekarang ratusan ribu orang dengan jutaaan postingan setiap harinya.

Lalu siapa Ken Dean Lawadinata? Ken adalah orang yang memboyong Kaskus ke Indonesia, lewat Ken lah Kaskus bisa menjadi besar seperti sekarang, apa spesialnya Ken sebagai CEO termuda di Indonesia? Well, tidak mudah mengembangkan bisnis yang tidak bisa dipegang alias bisnis yang tidak konkret, bisnis yang tidak ada barang yang disentuh, butuh keyakinan ekstra tinggi untuk bisa meyakinkan Orangtua yang kurang memahami bisnis online untuk memberikan pinjaman uang sebagai modal. Di sini kehebatan Ken teruji.

“Sepanjang Tahun 2007 saya berjuang untuk bisa meluluhkan hati Andrew dan meminta persetujuan Papi. Ini perjuangan super sulit! Yang satu sangat paham dunia online, yang lainnya sangat tidak nggak paham dunia online!” (Bab.6 Memiliki Kaskus, hal. 164)

Buku yang mengisahkan sepak terjang dua anak muda Ken Dean Lawadinata dan Andrew Darwis, dibalik nama besar Kaskus, ini seru, enak dibaca dengan font tulisan yang nyaman, warna cover kuning cerah tipikal anak muda, serta gaya bercerita yang tidak menggurui dan asyik, mengajak anak muda untuk berani dan yakin menentukan apa yang menjadi mimpi dan cita-cita. Jangan takut memulai! ACT!

Sekali lagi, mengambil kata-kata Ken, “Sukses itu bahagia, kalo gak happy itu artinya kita belum sukses.” Selamat membaca!


Detil Buku
Judul: Ken & Kaskus; Cerita Sukses Di Usia Muda (A True Story of Ken Dean Lawadinata)
Penulis: Alberthiene Endah
ISBN :978-979-22-9288-6
Jumlah Halaman: 301 halaman

101 Young CEO

Additional Info

  • Nama Buku:101 Young CEO
  • Penulis:Muhammad Ilman Akbar
  • ISBN:978-602-9212-81-5
  • Kategori:Buku Umum
  • Diskripsi:“Saya terbilang terlambat jadi entrepreneur, setelah 18 tahun bekerja di perusahaan orang. Coba kalau buku seperti ini sudah ada waktu saya muda dulu, pasti saya akan lebih cepat jadi entrepreneur di usia sangat muda. Sangat setuju bahwa untuk jadi pengusaha sebaiknya di usia muda sehingga kreativitas kita belum dibatasi oleh berbagai cicilan dan tanggungan.” ---Yoris Sebastian (@yoris), Pendiri OMG Creative Consulting & Penulis Buku Creative Junkies “Buku ini mencerahkan dan membantu memberi inspirasi untuk asset terbesar Indonesia, para anak muda dengan kreativitas tak terbatas, seperti kamu, untuk mulai berbisnis. Selamat bersenang-senang!” ---Ollie (@salsabeela), Penulis dan Co-Founder NulisBuku.com, The First Online Self-Publishing in Indonesia “Untuk menggerakkan ekonomi, Indonesia perlu banyak entrepreneur. Tidak ada pilihan lain, bibit-bibit itu harus dilahirkan dan dibina sejak usia muda, karena pada akhirnya, kepiawaian mengelola bisnis bukan ilmu yang bisa dipelajari di sekolah. Ilmu yang dipadukan dengan pengalamanlah yang akan mematangkan sang entrepreneur muda. Semoga dari buku ini, banyak pengalaman yang bisa dipetik.” ---Iim Fahima Jachja (@iimfahima), CEO Virtual Consulting “Buku ini mengagumkan dan harus dibaca oleh semua orang-orang muda yang ingin menjadi pengusaha tetapi tidak tahu belajar di mana! Ketika kamu berusia muda dan ingin membangun usaha, orang-orang di sekitarmu akan memberikan banyak nasihat yang seringkali bertentangan satu dengan yang lain. Saran saya, kamu tidak harus mendengarkan nasihat mereka, tetapi belajarlah dari pattern yang ada di industry yang kamu pilih, buku ini berisi berbagai pattern yang bisa menjadi referensi untuk kamu pelajari!” ---Rhein Mahatma (@reintweets), Co-Founder StartupBisnis.com
 
Created : UKM Jurnalistik Team | UKM Jurnalistik | UKM Jurnalistik Template
Copyright © 2013. Bidik Utama Untirta - All Rights Reserved
Template Created by UKM Jurnalistik Team Published by UKM Jurnalistik
Proudly powered by UKM Jurnalistik